Musi Banyuasin | Jurnalismerahputih.com
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) diduga lalai dan tak peduli dengan tugas kewajibannya untuk mengatasi dan menangani gunungan sampah di Kabupaten Muba, khususnya di Kelurahan Mangun Jaya, Kecamatan Babat Toman.
sekitar 150 meter dari Taman Toga, terdapat gunungan sampah organik dan anorganik yang sebagian besar terbungkus plastik, diperkirakan bobot totalnya lebih 50 ton.
Keberadaan gunungan sampah tersebut sangat mengganggu, serta menimbulkan rasa tidak nyaman bagi masyarakat sekitar, selain bau busuk yang menyengat terutama setelah hujan deras, hamparan sampah tersebut menutupi badan jalan, menghambat kelancaran lalu lintas, dan tentunya menjadi sarang bagi ulat, tikus, kecoa, lalat, serta mikro organisme, yang dapat menimbulkan penyakit dan mencemari lingkungan.
Aktivis senior Muba, M. Lekat Gonzales, mengungkapkan keprihatinan dan harapannya:
“Keberadaan gunungan sampah berton-ton dan menimbulkan bau busuk dan menyengat, mencemari linkungan, serta menjadi sarang penyakit, menutupi badan jalan sehingga susah dilintasi kendaraan roda empat dan roda dua,” Ungkapnya.
“Kondisi seperti ini sudah lebih empat tahun, hamparan sampah ini diabaikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Muba sehingga menggunung seperti ini,” imbuhnya.
Heriyanto warga setempat mengatakan masyarakat Kelurahan Mangun Jaya meminta Pemerintah Daerah Muba untuk melihat langsung kondisi yang ada dan memberikan solusi konkret.
“Harapan kami selaku warga Kelurahan Mangun Jaya agar Pemerintah Daerah Muba melakukan Sidak ke lokasi dan memberikan solusi, karena keberadaan gunungan sampah ini sangat menggangu dan mencemari lingkungan,” kata Heryanto.
Sementara itu Kepala DLH Muba, melalui Kabid Kebersihan, Nasirin, pada Selasa, 10/6/2025, saat dimintai tanggapannya mengenai keberadaan gunungan sampah yang sudah lebih 4 tahun tersebut, mengatakan bahwa untuk mengatasi gunungan sampah tersebut dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, DLH belum ada anggaran.
“Itu jaman Pj Bupati Sandi Pahlepi (tahun 2024) sudah diperintahkan agar ditutup, tidak difungsikan lagi, kami pindah ke Kasmaran. Kami waktu itu minta dibantu Pertamina untuk dipinjami alat berat, tetapi dari Pertamina nya sampai sekarang belum ada action, kami tidak punya mobil Towing, dan tidak ada anggaran, ini juga sedang refokusing, resesi anggaran. Kami usahakan semaksimal mungkin untuk mengatasinya,” terangnya.
Jwr | Kaperwil Sumsel

Social Header