Breaking News

"SERASAN SEKUNDANG" di Tengah Deru Akronim Zaman: Sebuah Renungan Identitas Muara Enim

​Jurnalismerahputih.com | Muara Enim – Di balik kekayaan alam dan keragaman budaya yang membentang luas di Muara Enim, ada sebuah frasa yang telah menyatu dengan nafas masyarakatnya: Serasan Sekundang. Sebuah pusaka kata yang melampaui sekadar slogan daerah, melainkan manifestasi dari filsafat hidup yang dititipkan oleh para pendahulu.

​Namun, belakangan ini, wajah ruang publik di Kabupaten Muara Enim tampak mengalami pergeseran visual yang mencolok. Tagline-tagline baru, salah satunya yang kerap terbaca sebagai "Membara", mulai menghiasi gapura desa hingga atribut pendidikan.

Fenomena ini memicu diskusi menarik di kalangan pemerhati sejarah dan kesadaran kolektif: Sejauh mana sebuah identitas politik boleh berkelindan dengan identitas sejarah yang sudah mengakar?


Marwah yang Bukan Sekadar Nama

Secara etimologi dan sosiologis, Serasan Sekundang adalah janji luhur. Ia adalah simbol keselarasan, gotong royong, dan kesetiaan pada kesepakatan bersama.

Dalam kacamata ilmu sejarah, slogan yang lahir dari kristalisasi nilai lokal disebut sebagai Identitas Organik. Ia tumbuh dari bawah, dirawat oleh waktu, dan direstui oleh memori kolektif nenek moyang.

​Ketika sebuah identitas organik yang sudah berusia puluhan tahun mulai berdampingan atau bahkan terhimpit oleh akronim-akronim baru yang bersifat temporal (sementara), muncul risiko hilangnya "ruh" daerah tersebut.

Para ahli sosiologi budaya sering mengingatkan bahwa simbol daerah adalah "jangkar" psikologis masyarakat.

Jika jangkar itu sering diganti demi kepentingan estetik atau komunikasi politik sesaat, dikhawatirkan masyarakat akan kehilangan pegangan terhadap asal-usulnya.


​Antara Inovasi dan Desakralisasi

Tentu, adaptasi zaman memerlukan semangat baru. Namun, dalam ilmu komunikasi pembangunan, pemakaian jargon baru yang terlalu masif hingga menyentuh ranah sakral seperti gapura perbatasan atau seragam generasi muda, seringkali dipandang sebagai langkah yang berisiko.

​Ada hukum alam yang tak tertulis dalam sejarah: Sesuatu yang dibangun secara instan untuk tujuan citra, biasanya akan menguap seiring bergantinya kepemimpinan.

Sebaliknya, apa yang ditinggalkan oleh leluhur melalui konsensus sejarah seperti Serasan Sekundang, akan tetap tegak meski badai politik berganti.


​Pesan Moral Bagi Pemangku Kebijakan

Menghormati simbol lama bukan berarti anti-kemajuan. Justru, dengan menjaga kemurnian slogan asli daerah, seorang pemimpin menunjukkan kerendahan hati bahwa ia hanyalah bagian kecil dari sejarah panjang Bumi Serasan Sekundang.

​Ada semacam "beban moral" ketika identitas baru dipaksakan. Masyarakat tradisional sering mengaitkan keberkahan suatu wilayah dengan penghormatan terhadap "warisan" para pendiri.

Mengganti atau menutupi slogan sejarah secara asal-asalan seringkali dianggap sebagai bentuk pemutusan silaturahmi spiritual dengan akar sejarah itu sendiri.

​Pada akhirnya, tulisan ini mengajak kita semua—baik masyarakat maupun pemangku kepentingan—untuk kembali menengok ke dalam. Apakah simbol-simbol yang kita pasang hari ini akan diingat sebagai sebuah nilai, atau hanya akan menjadi catatan kaki yang terlupakan saat masa jabatan usai?

​Muara Enim tidak butuh sekadar jargon yang menyala, ia butuh kehangatan pelukan Serasan Sekundang yang tak kunjung padam oleh zaman.


-JWR | Sumsel Region

© Copyright 2022 - JURNALIS MERAH PUTIH