Jurnalismerahputih.com | Benakat, Muara Enim – Sabtu malam (31/1/2026), sekitar pukul 23.00 WIB, menjadi saksi bisu atas sebuah tragedi yang mengoyak rasa kemanusiaan di Kampung 6, Desa Padang Bindu, Kecamatan Benakat.
Sebuah hunian warga hangus tak bersisa, dilalap si jago merah yang diduga kuat bersumber dari api obat nyamuk bakar.
Sebuah ironi besar di tengah kemajuan zaman, di mana warga masih harus bertaruh nyawa dengan risiko api hanya demi mendapatkan kenyamanan istirahat di tengah ketiadaan akses energi listrik.
Keajaiban di Tengah Musibah: Nihil Korban Jiwa
Meskipun kobaran api melahap seluruh bangunan dalam waktu singkat, sebuah mukjizat menyertai peristiwa ini.
Berdasarkan pantauan di lapangan, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden memilukan tersebut. Penghuni rumah berhasil menyelamatkan diri sebelum api menguasai seluruh konstruksi bangunan.
Namun, ketiadaan korban jiwa tidak lantas menghapus getirnya kenyataan bahwa seluruh harta benda yang dikumpulkan dengan cucuran keringat kini telah menjadi abu.
Aspirasi Publik: Menuntut Kehadiran Negara
Irin Maki, tokoh masyarakat yang menjadi penyambung lidah warga terdampak, menegaskan bahwa peristiwa ini seharusnya menjadi titik balik bagi kebijakan Pemerintah Kabupaten Muara Enim.
Ia secara lugas menghimbau Bupati agar segera mengambil tindakan konkret yang bersifat darurat maupun strategis.
"Alhamdulillah, tidak ada nyawa yang melayang. Namun, apakah kita harus menunggu ada korban jiwa baru pemerintah bergerak? Kami sangat berharap Bapak Bupati dapat merespons musibah ini dengan cepat.Kami butuh bantuan darurat, tapi lebih dari itu, kami butuh kepastian kapan listrik masuk ke desa kami agar kami merasa benar-benar diperhatikan sebagai warga Muara Enim," ujar Irin Maki dengan nada penuh harap.
Refleksi Pembangunan yang Belum Merata
Tragedi di Desa Padang Bindu ini membuka tabir mengenai masih adanya disparitas infrastruktur di wilayah pelosok. Penggunaan obat nyamuk bakar sebagai pemicu kebakaran adalah bukti otentik bahwa ketiadaan listrik bukan hanya soal kegelapan, melainkan juga soal ancaman keselamatan.
Kini, bola panas berada di tangan pemerintah daerah. Publik menanti sejauh mana sensitivitas dan responsibilitas Bupati Muara Enim dalam memitigasi dampak bencana ini, sekaligus membuktikan komitmennya dalam menghapuskan kegelapan di pelosok Benakat demi mewujudkan keadilan sosial yang merata bagi seluruh rakyat.
Jwr | Kprwl Sumsel

Social Header