Jurnalismerahputih.com | Indramayu – Aroma skandal korupsi di Jawa Barat kian menyengat. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali bergerak cepat dengan menggeledah rumah Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono (ONS), di Indramayu, Kamis (2/4/2026).
Langkah ini bukan tanpa alasan. Penggeledahan tersebut diduga kuat berkaitan dengan pengusutan kasus suap proyek di Kabupaten Bekasi yang menyeret Bupati nonaktif, Ade Kuswara Kunang (ADK).
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menegaskan bahwa penggeledahan ini merupakan lanjutan dari operasi sebelumnya di Bandung.
“Penyidik melanjutkan kegiatan penggeledahan di rumah ONS di Indramayu,” tegasnya.
Namun yang menjadi sorotan, nama Ono Surono sebelumnya sudah sempat muncul dalam pusaran kasus ini. Pada 15 Januari 2026, ia diperiksa sebagai saksi dan dicecar soal aliran uang—indikasi kuat adanya jejaring yang lebih luas.
Jejak OTT yang Membuka Tabir
Kasus ini bermula dari Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK pada 18 Desember 2025 di Kabupaten Bekasi. Dalam operasi senyap itu, 10 orang diamankan—sebuah angka yang langsung memicu perhatian publik.
Tak butuh waktu lama, KPK menetapkan tiga tersangka utama:
Ade Kuswara Kunang (ADK) — Bupati Bekasi nonaktif
HM Kunang (HMK) — ayah ADK sekaligus Kepala Desa
Sarjan (SRJ) — pihak swasta
KPK mengungkap adanya praktik suap terkait proyek daerah, dengan nilai mencapai ratusan juta rupiah yang turut disita sebagai barang bukti.
Arah Penyidikan Makin Meluas
Penggeledahan di dua lokasi berbeda—Bandung dan Indramayu—mengindikasikan bahwa penyidik tengah memburu bukti tambahan, termasuk kemungkinan aliran dana ke pihak lain.
Pertanyaannya kini: Apakah Ono Surono hanya sebatas saksi?
Atau justru menjadi bagian dari mata rantai kasus yang lebih besar?
KPK belum memberikan detail hasil penggeledahan. Namun satu hal pasti—kasus ini belum selesai, dan potensi “nama-nama besar” lain ikut terseret semakin terbuka.
Publik kini menanti, sejauh mana KPK akan membongkar jaringan di balik dugaan korupsi yang melibatkan elite daerah ini.
Red

Social Header