Breaking News

Bukan Hanya Main Mata, Para Mafia Rampok Uang Perusahaan PT SC Seakan Tak Tersentuh..?!

CIMAHI

Jurnalismerahputih.com

Walaupun sudah viral pemberitaan didunia maya tentang pembuangan limbah B3 yang asal-asalan oleh pihak PT Sinar Continental kepada pihak tak berizin yang dikelola secara sepihak oleh RW setempat, hingga saat ini belum ada tindakan yang serius dari instansi terkait kepada pabrik tersebut. 

Padahal, nyata dan jelas bukti-bukti valid di lapangan, yang menyertakan foto, video barang dan pengakuan pemilik lapak maupun pihak pabrik sendiri, bahkan pemberitaan didunia maya pun sudah tersebar luas dan tembus kemana-mana. 

Namun anehnya, hingga berita ini dirilis pun, belum ada  tindakan apa-apa kepada pabrik textile yang berada di jl Industri 2 kota Cimahi tersebut, baik secara lisan, tulisan/tertulis apalagi penindakan dilapangan berupa audit dan pemeriksaan sampai dengan penyegelan. 

Muhammad Yunus, HRD sekaligus Caleg nomor urut 2 DPRD dapil 4 kota Cimahi adalah sang aktor utama rampok uang perusahaan.

Sang aktor yang pintar akting ini tampaknya mendapat angin segar dari pihak "orang kuat" yang diduga ada dibelakangnya. 

Tak sekali dua kali, 2013 dan 2015 sang Aktor M.Yunus juga pernah terlilit masalah yang sama hingga dugaan penerimaan gratifikasi dari calon karyawan pabrik yang ingin bekerja.

Bukan sekedar OPINI, rilisan tersebut tersebar di beberapa media online. Hebatnya Yunus hingga saat ini belum pernah tersentuh hukum?? Wah..

Pasca kedatangan awak media ke lokasi untuk meluruskan permasalahan, Yunus "the goodfather" terlihat santai-santai saja dan seperti tak goyang sedikitpun, pertanyaan awak media dijawab dengaan muka memelas seakan-akan memohon untuk tidak dipublikasikan, tapi pada  kenyataannya, lain diwajah, lain pula di fikirannya. 

Muncul pertanyaan, sebegitu besarkah "power"  yang melindungi Yunus cs? Sampai-sampai tak pernah tersentuh hukum padahal jelas pelanggarannya? 

Di sisi lain, "The king" Mikael,General Manager pabrik juga bersikap sama, masa bodo dan seolah acuh tak acuh mencibir pemberitaan yang telah ramai. 

Pertanyaan kedua, "SIAPA" kekuatan yang menaungi para mafia rampok uang perusahaan ini sehingga masih terkesan santai saja mereka terhadap masalah dengan GMPL dan awak media yang harusnya mereka khawatir? 

Tentunya bukan oknum sembarangan.

Kolaborasi para rampok uang PT sedikit demi sedikit mengeruk uang dan aset perusahaan sehingga menjadi benalu yang harusnya dibinasakan oleh owner pabrik tersebut, namun sayangnya ada dugaan kuat owner belum mengetahuinya karena setiap ada permasalahan selalu di handle dan ditutupi oleh duet maut The Goodfather dan The King, Yunus dan Mikael (begitu info yang didapat awak media dari narasumber, GMPL -red).

Awalnya mula dari perseteruan pabrik dengan GMPL selaku narasumber, yakni alih-alih ingin kerjasama dengan adil untuk pengelolaan limbah bersama warga atas dasar SKB (surat keputusan bersama) yang mana telah disepakati oleh Pabrik, RW setempat, dan GMPL sebagai lembaga lingkungan sekitar, Yunus justru mengambil jalan sepihak serta kongkalikong dengan berbagai pihak untuk memuluskan perbuatan busuknya.

"Sang kaisar" ketua RW 014 merupakan permain utama, semenjak menjabat sebagai RW baru menggantikan RW lama (Mahmudin), Sang RW membatalkan perjanjian SKB dengan sepihak (info narasumber GMPL -red) sehingga ini menjadi polemik yang tak berkesudahan dengan GMPL.

Buntutnya, sang RW malah memonopoli pengelolaan limbah B2 (katanya) namun pada kenyataannya bablas dengan B3 sekalian, hingga saat ini.

Dilain hal, pak RT Aos, Bhabin dan Polsek setempat tak lupa dilibatkan dalam permainan ini (info GMPL -red), pastinya juga disediakan "hidangan kue" dari Yunus agar meenutup mata dari sepakterjang yang berkecamuk didalam pabrik. 

Well, sudah ketebak alurnya, mereka aman-aman saja memainkan peran masing-masing, membuang limbang ke lapak tak berizin (info GMPL ada 2 lapak, Jablay dan Komar -red). 

Permainan ini berjalan bertahun-tahun lamanya,  bayangkan setiap kali pengeluaran limbah B3 (seminggu bisa 2-3 kali), perusahaan tentunya merogoh kroscek *puluhan juta* kepada pihak pengelola limbah, namun oleh Yunus "dikondisikan", limbah B3 dibuang dan "diselipkan" didalam limbah B2 atau limbah dapur, ditumpuk di lapak-lapak tadi, lalu diperjual-belikan, uang yang harusnya dipakai untuk pembuangan limbah kemana masuknya?

Jelas ke dalam saku sang goodfather. Permainan yang cantik, kiri kanan saku tuan Yunus penuh..! O iya lupa, lagi nyaleg, pasti butuh uang banyak... 

Info terakhir, pihak RW dan GMPL (yang merupakan narasumber -red) akan melakukan mediasi terkait ini, katanya sih perusahaan lagi berbenah,, yaa bisa kita lihat perkembangannya, awak media akan terus membongkar permainan ini mencari tau kebenarannya dan mempertanyakan KENAPA INSTANSI POLRI (Tipidter), DLH dan dinas terkait lainnya seolah MENUTUP MATA? 

dan tentunya akan mencari tau siapa "backing"  dari duo desicion maker pabrik tersebut, Yunus dan Mikael sehingga mereka merasa jumawa dan diatas angin?? [Tim/red]

© Copyright 2022 - JURNALIS MERAH PUTIH