Breaking News

Sungai Lengi Tercemar! Bupati Muara Enim Sebut Kewenangan Ada di Pusat dan Akui Perintahkan PDAM Pindah Pipa Intake


Jurnalismerahputih.com| Muara Enim - Kondisi Sungai Lengi di Desa Gunung Megang Dalam, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, kini berada pada titik paling mengkhawatirkan. Sungai yang selama puluhan tahun menjadi urat nadi ekonomi warga berubah menjadi aliran keruh penuh lumpur. Nelayan kehilangan mata pencarian, penambang pasir manual berhenti bekerja, dan ribuan warga terjerat krisis air bersih setelah PDAM terpaksa menghentikan penyedotan.

Kondisi ini tidak terjadi secara alami. Warga menilai kerusakan mulai tampak sejak meningkatnya aktivitas pertambangan di sekitar aliran sungai, meski pihak berwenang belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai sumber pencemaran. Endapan lumpur terus menumpuk, menandakan adanya perubahan besar pada struktur dasar sungai.

Dampaknya tidak main-main. Perahu nelayan kini hanya terparkir tanpa fungsi, penambang pasir manual tidak bisa lagi beroperasi karena seluruh material pasir tertutup lumpur tebal, sementara warga kesulitan mencari air bersih untuk kebutuhan harian.

“Sungai Seperti Mati, Ekonomi Ikut Terkapar”

Sejumlah warga menyebut Sungai Lengi kini seperti “sungai mati”. Tidak ada ikan, tidak ada aktivitas ekonomi, dan tidak ada kepastian kapan kondisi kembali normal.

“Kami hanya bisa melihat. Tidak ada lagi yang bisa dijual, tidak ada lagi tempat mencari makan,” ujar Hardianto salah satu warga setempat dengan nada kecewa.

Situasi ini membuat roda ekonomi lokal tersendat. Pedagang kecil, pengepul ikan, hingga pekerja harian ikut kehilangan pendapatan karena tidak ada lagi aktivitas yang bergerak di sekitar sungai.

Bupati Muara Enim: Kewenangan Ada di Pusat, Daerah Bergerak Sejauh yang Bisa

Menanggapi tekanan publik, Bupati Muara Enim menyampaikan bahwa ruang gerak pemerintah daerah terbatas karena urusan pertambangan berada di bawah kewenangan kementerian.

“Perizinan, pengawasan, dan sanksi pertambangan itu kewenangan pusat. Kita tidak bisa sembarangan bertindak. Tapi apakah kita diam? Tidak,” tegas Bupati saat diwawancarai seusai acara Pakta Integritas Anti Korupsi di Lapangan Kejaksaan Negeri Muara Enim, Selasa (25/11/2025).

Bupati mengungkapkan, tim investigasi sudah diturunkan untuk melakukan pengecekan di lapangan. Identifikasi awal menunjukkan bahwa pada musim kemarau dengan debit air rendah, lumpur lebih mudah naik dan memperparah keadaan.

PDAM Terpaksa Stop Operasi: Warga Korban Terbesar

Krisis semakin menegang ketika PDAM menghentikan penyedotan air dari Sungai Lengi. Air sungai dinilai tidak lagi layak diolah sebagai air bersih, memaksa warga membeli air kemasan atau mengambil dari sumber jauh.

Solusi Jangka Panjang: Pindahkan Sumber Air ke Sungai Lematang

Sebagai langkah alternatif, Bupati mengaku telah memerintahkan PDAM melakukan kajian pemindahan pipa intake ke Sungai Lematang.

“Saya sudah minta kajian teknis. Jika memungkinkan, langsung kita biayai. Ini solusi jangka panjang agar pasokan air warga tidak lagi bergantung pada Sungai Lengi,” jelasnya.

Warga Menunggu Aksi Nyata

Meski tim sudah turun, warga masih menunggu langkah penegakan dan tindakan pemulihan yang konkret. Mereka berharap pemerintah pusat dan daerah bersinergi mengatasi persoalan ini sebelum Sungai Lengi benar-benar kehilangan fungsi ekologisnya.

Warga mendesak penyelidikan menyeluruh, terbuka, dan langkah pemulihan segera  sebelum kerusakan yang ada berubah menjadi permanen.


Jono JMP

© Copyright 2022 - JURNALIS MERAH PUTIH