Jurnalismerahputih.com | SUMATERA SELATAN – PT Bukit Asam, Tbk (PTBA) kini berada dalam pusaran kritik mengenai keseimbangan antara agresivitas ekspansi bisnis dan komitmen transparansi publik.
Di tengah derasnya publikasi mengenai penguatan ekosistem hilirisasi bauksit dan penyediaan energi berkelanjutan di Mempawah, pihak manajemen emiten terpantau masih memilih sikap retisens (diam) terkait insiden fatalitas yang merenggut nyawa pekerja di wilayah operasionalnya sendiri.
Sebagaimana rilis resmi perusahaan yang menonjolkan peran strategis PTBA dalam mendukung hilirisasi nasional, terdapat kontradiksi yang mencolok mengenai kewajiban keterbukaan informasi atas insiden kritis di Site BTSJ.
Publik dan para pemangku kepentingan kini menyoal apakah masifnya pemberitaan prestasi tersebut merupakan bentuk upaya mitigasi reputasi untuk menutupi catatan kelam keselamatan kerja (K3) yang hingga kini belum diberikan klarifikasi resmi secara eksklusif kepada media.
Kontradiksi Nilai Emiten dan Realitas Lapangan
Dalam prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang menjadi kiblat investor pasar modal, capaian industri tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial dan kemanusiaan. Munculnya dokumen teknis internal berupa Safety Alert yang mengonfirmasi adanya kecelakaan fatal, tanpa diikuti oleh pernyataan resmi manajemen, dinilai sebagai bentuk asimetri informasi yang berisiko merugikan kepercayaan investor jangka panjang.
"Sebuah entitas Blue Chip tidak hanya diuji dari kemampuannya membangun smelter atau menyediakan energi, tetapi dari keberanian pimpinannya untuk transparan saat terjadi krisis kemanusiaan di area kerjanya. Membanjiri ruang publik dengan berita prestasi sembari menutup akses informasi atas hilangnya nyawa manusia adalah paradoks komunikasi korporasi," ungkap analisis dari Redaksi Jurnalis Merah Putih Sumatera Selatan.
Urgensi Akuntabilitas di Bursa Efek
Kepala Perwakilan Jurnalis Merah Putih Sumatera Selatan, Yh Pratama S.S (Jawir), menegaskan bahwa hak publik atas informasi material tidak bisa digantikan dengan narasi keberhasilan investasi. Upaya pengejaran wawancara eksklusif kepada petinggi PTBA terus dilakukan guna memastikan bahwa setiap "Multiplier Effect" ekonomi yang digembar-gemborkan perusahaan juga mencakup perlindungan dan transparansi terhadap nasib pekerja di garis depan.
Kini, pasar modal menanti apakah manajemen PTBA akan merespons keraguan publik ini dengan keterbukaan yang jujur, atau terus berlindung di balik narasi hilirisasi?
Red

Social Header