Jurnalismerahputih | Palembang – Pasar aset digital global memasuki fase volatilitas tinggi pada pekan pertama Februari 2026. Berdasarkan data pasar terbaru, dua aset kripto utama, Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), mencatatkan penurunan signifikan dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Fenomena ini berbanding terbalik dengan performa Greenback (Dolar AS) yang terus menunjukkan taringnya terhadap rupiah dan kelas aset berisiko lainnya.
1. Bitcoin Menembus Level Psikologis Baru
Bitcoin (BTC/IDR) terpantau terkoreksi tajam sebesar -11,65% dan diperdagangkan di kisaran Rp1.090.285.000. Dari sisi teknikal, grafik mingguan (1W) menunjukkan candlestick merah pekat yang menembus garis EMA7 dan mendekati area support historis di level Rp1.020.000.000. Tekanan jual masif ini dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) investor institusi setelah reli panjang di akhir tahun lalu, serta respon negatif pasar terhadap pengetatan likuiditas global.
2. Ethereum Terpukul Sentimen Deleveraging
Ethereum (ETH/IDR) mengalami nasib yang lebih terjal dengan penurunan sebesar -11,73%, membawa harganya ke level Rp32.182.000. Secara teknikal, ETH kehilangan momentum bullish setelah gagal mempertahankan level di atas EMA25. Likuidasi posisi leverage tinggi pada pasar derivatif memperparah kondisi ini, menciptakan efek domino yang menekan harga Ethereum hingga menyentuh titik terendah mingguannya di Rp29.532.000.
3. Dolar AS (USDT/IDR) Menjadi Safe Haven
Berbeda dengan pasar kripto yang memerah, nilai tukar dolar terhadap rupiah justru menguat. Pasangan USDT/IDR naik +0,58% ke level Rp16.938. Penguatan ini mencerminkan naiknya indeks dolar (DXY) di pasar global, dipicu oleh kebijakan moneter hawkish dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Nominasi tokoh moneter konservatif di jajaran Fed ditengarai menjadi katalis utama investor untuk beralih kembali ke aset tradisional yang lebih stabil.
Analisis Fundamental: Mengapa Ini Terjadi?
Beberapa faktor riset yang mendasari koreksi ini antara lain:
- Sentimen "Hawkish" The Fed: Pasar bereaksi terhadap nominasi calon Ketua Fed baru yang diprediksi akan mempertahankan suku bunga riil tetap tinggi. Kondisi ini membuat biaya pinjaman mahal dan menarik likuiditas keluar dari aset berisiko.
- Geopolitik & Ketidakpastian Global: Ketegangan di wilayah Timur Tengah dan ketidakpastian kebijakan ekonomi pasca-pemilu di beberapa negara besar mendorong investor melakukan risk-off (menjual aset berisiko).
- Korelasi Negatif: Secara historis, penguatan dolar AS selalu menjadi "racun" bagi Bitcoin. Saat indeks dolar menguat, daya tarik aset digital sebagai lindung nilai inflasi cenderung memudar untuk sementara waktu.
Catatan Redaksi: Koreksi ini merupakan bagian dari siklus pasar yang sehat untuk mendinginkan kondisi overbought. Investor disarankan tetap memantau rilis data inflasi AS minggu depan untuk menentukan arah tren jangka menengah.
-JWR

Social Header