Jurnalismerahputih.com | Muara Enim – Sebuah pertemuan tertutup yang dihadiri deretan aktivis lintas generasi baru-baru ini memicu spekulasi hangat di ruang publik. Bukan sekadar kumpul kopi biasa, pertemuan ini memunculkan satu narasi tunggal yang mulai diperbincangkan: "Membara Jilid 2".
Namun, muncul pertanyaan besar di tengah masyarakat: Apa sebenarnya yang sedang dirancang oleh para aktivis ini? Apakah ini bentuk dukungan, atau justru sebuah antitesis dari program yang sedang berjalan?
Antara Kontrol Sosial dan Estetika Parodi
Berbeda dengan gerakan konvensional, "Membara Jilid 2" disebut-sebut akan mengadopsi pendekatan unik. Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa wadah ini akan menjadi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menjalankan fungsi kontrol sosial dengan gaya parodi intelektual. Sebuah cara "menyentil" kebijakan publik tanpa harus kehilangan nalar kritis, namun tetap membuat telinga yang mendengarnya terasa panas.
"Publik harus mulai bertanya-tanya, ketika aktivis sudah mulai berkumpul dan merancang diksi 'Membara', apakah ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja? Atau justru ini adalah cermin yang sengaja dipasang agar para pemangku kebijakan bisa melihat wajah aslinya sendiri?" ujar salah satu sumber di lingkaran pertemuan tersebut.
Menanti Langkah Berikutnya
Hingga rilis ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi mengenai struktur organisasi maupun agenda jangka pendek mereka. Namun, satu hal yang pasti: kehadiran "Membara Jilid 2" dengan balutan warna kuningnya telah menciptakan atmosfer ketegangan intelektual di Muara Enim.
Apakah para pemain politik siap menghadapi gelombang kritik berbasis parodi ini? Ataukah "Membara Jilid 2" hanya akan menjadi hantu yang terus membayangi setiap kebijakan yang diambil?
Publik hanya bisa menunggu, sambil terus bertanya: Setelah ini, siapa yang akan benar-benar membara?
Jwr | Kprwl sumsel

Social Header