Breaking News

Janggal! Seniman Kawakan ini Sorot Seleksi FLS3N Muara Enim, Kapasitas Juri dipertanyakan

Jurnalismerahputih.com | Muara Enim – Pelaksanaan seleksi Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) di tingkat kecamatan di Kabupaten Muara Enim kini berada di bawah sorotan tajam, pegiat seni kawakan, Bang Nano. 

Perhatian Bang Nano tertuju pada posisi juri seleksi tersebut yang diisi oleh sejumlah Kepala Sekolah (SD), dan bukan oleh praktisi atau ahli yang memahami bidang seni yang diperlombakan. Seperti yang tertuang dalam juknis FLS3N tentang Juri (hal.7) 

Bang Nano menegaskan bahwa penyelenggara FLS3N hanya berperan sebagai panitia pelaksana,  sementara untuk posisi juri justru tidak berasal dari unsur pelaksananya dan tentu saja memiliki kompetensi (bisa dicek dalam panduan FLS3N). 

"Bagaimana mungkin perkembangan kesenian di Muara Enim bisa maju kalau cara seleksinya saja tidak benar? Kalau kepala sekolah yang dipaksakan jadi juri, penilaian tidak akan bisa fair. Ini bukan soal jabatan, tapi soal kompetensi seni," tegas Bang Nano

Beliau menambahkan bahwa jika pola ini terus dipertahankan, FLS3N hanya akan menjadi ajang formalitas belaka yang justru membatasi ekspresi dan potensi kreatif siswa. "Kasihan anak-anak yang sudah latihan keras, tapi dinilai oleh orang yang tidak paham bidangnya. Ini sangat merugikan," lanjutnya.

Melihat karut-marutnya seleksi di tingkat Korwil Kecamatan, Bang Nano memberikan solusi keras kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Muara Enim. Ia meminta agar Diknas segera memberikan diskresi bagi siswa-siswa berbakat untuk bisa mendaftar secara mandiri jika Korwil tidak mampu menyelenggarakan seleksi yang kredibel.

"Daripada dipaksakan di kecamatan dengan juri yang tidak kompeten, lebih baik Diknas buka jalur mandiri langsung ke Kabupaten. Biar anak-anak kita mendapatkan penilaian yang jujur dari juri yang benar-benar punya kapasitas," ujarnya.

Selain masalah penjurian, Bang Nano juga menyoroti ketidaksiapan birokrasi, termasuk adanya dugaan salah ketik pada surat edaran tertanggal 4 Maret terkait batas waktu seleksi (6-12 April).

Hal ini dianggap sebagai cerminan lemahnya koordinasi dalam mengawal ajang sebesar FLS3N.

Dengan adanya temuan juri dari kalangan kepala sekolah ini, Bang Nano berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Muara Enim segera mengambil tindakan tegas. Seni harus dikembalikan ke tangan para seniman, agar hasil dari FLS3N benar-benar mewakili kualitas terbaik Muara Enim, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif.


Yh Pratama (Jwr) | Sumsel Region

© Copyright 2022 - JURNALIS MERAH PUTIH