Breaking News

Wayang, Dalang dan Hikmah Bagi Yang Mau Belajar

JAKARTA (07/11) || jurnalismerahputih.com - Hari ini 7 November adalah Hari Wayang Nasional. Dua - puluh tahunan yang lalu, saya ikut merasakan semangat perjuangan tim Indonesia karena sahabat keluarga kami, Bapak Dalang Gaura Mancacaritadipura merupakan salah satu tokoh yang berperan dalam upaya memperjuangkan warisan budaya Indonesia ke UNESCO. 

Kami biasa ngobrol berjam-jam bersama keluarga dan sahabat. Bapak Gaura adalah WNI keturunan Australia yang cinta dan perjuangannya untuk ikut memajukan budaya Indonesia sangat luar biasa. Kenyataannya, kesenian Wayang sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di Jawa Bali, bahkan beragam jenisnya. Selain Wayang, beberapa warisan Indonesia juga telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya, antara lain keris, pendidikan pelatihan membatik, batik, angklung, tari saman, Noken Papua, kapal pinisi, tradisi pencak silat, pantun, gamelan dan beberapa tarian Bali. 

Mungkin karena saya gen Bali, merupakan hobby dan sangat tertarik hal yang menyangkut seni dan budaya. Dalam hal kecintaan pada bangsa dan negara,  tokoh pewayangan yang menjadi panutan saya adalah Bhisma yang agung. 

Bhisma adalah penglingsir, sesepuh Kerajaan Hastina Pura. Ksatria Bharata, Putra Maharaja Sentanu. Dia terlahir dengan nama Dewabrata. Namun dikenal dengan nama Bhisma karena keteguhan terhadap sumpah dan kata-kata yang diucapkan. Orang yang setia pada kata-kata yang diucapkan, dalam ajaran Hindu disebut sebagai Satya wacana. 

Bhisma terkenal berhati bersih. Tidak terpengaruh godaan harta dan tahta, hingga dikaruniai berkat bisa menentukan saat kematiannya sendiri. Sebagai seorang Ksatria, sikapnya jelas, terang benderang. Laksana mata elang, fokusnya hanya menjaga Hastina Pura dari segala hambatan, tantangan, ancaman dan gangguan. 

Saat Perang Baratayudha, Bhisma maju ke medan tempur Kurusetra membela bangsanya, meski harus berhadapan dengan keluarga sendiri. Pelajaran apa yang bisa dipetik? Politik dari masa Bharatayudha hingga kini tetap sama. Ada karakter ksatria yang kesetiannya tidak bisa dibeli.  Ada pula karakter sebaliknya.  Zaman berganti zaman, namun karakter kepemimpinan Bhisma sebagai pengawal keutuhan Hastina Pura tetap dikenang dan terpatri dalam peradaban. Selamat Hari Wayang Nasional. Semoga ada hikmah bagi kita yang mau Belajar. 

Penulis: Pande K. Trimayuni 
Sekjen Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesian / Ketua FOKAL UI


[red/jmp]
© Copyright 2022 - JURNALIS MERAH PUTIH